TENTANG KAMI

ASOSIASI Pengrajin Tangerang (APTA) merupakan lembaga atau organisasi yang bergerak di bidang usaha alas kaki seperti sepatu atau sandal, tas, topi, serta kaos atau pakaian seragam. Dalam perjalanannya sejak 2009 lalu, APTA telah mampu memberikan sumbangsih kepada pemerintah daerah, terutama dalam turut membantu membangun perekonomian masyarakat, serta mengurangi angka pengangguran yang ada di wilayah Tangerang.

Saat ini, lebih dari 250 pengrajin yang ada di Tangerang, 150 orang diantaranya sudah bergabung di APTA, yang dalam hal ini mempunyai sekitar 8ribu tenaga kerja, dan mampu menghidupi kurang lebih 20 ribu orang yang tersebar di beberapa wilayah di Tangerang.

Berdirinya APTA sendiri tak lepas dari sebuah proses ‘metamorfosis’, dari mimpi para anggotanya yang diantaranya adalah mantan para buruh pabrik sepatu. Pada akhir 90-an dan awal tahun 2000-an, beberapa pabrik alas kaki atau sepatu di wilayah Tangerang mengalami defisit, ‘kolep’, hingga akhirnya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran.

PT Garuda Indawa yang kala itu memproduksi sepatu merek terkenal ‘Eagle’ gulung tikar, PT DOSON INDONESIA tutup, PT BERTONI tak mampu beroperasi kemabali, dan PT STARWIN INDONESIA juga mengalami hal serupa, sang pemilik modal alias investor hengkang pulang ke negara asalnya.

Puluhan ribu karyawan pabrik sepatu kehilangan lapangan pekerjaan. Sebagian pulang ke kampung halaman, sebagian lagi mencoba bertahan di daerah yang berjuluk Kota Seribu Pabrik ini, yang beberapa diantaranya mengimplentasikan ilmu dan pengalamannya untuk banting setir membuat alas kaki, sepatu dan sandal.

Dengan peralatan yang sangat sederhana, dan masih sangat manual, ternyata produk atau karya para mantan buruh pabrik sepatu yang kehilangan lapangan pekerjaan ini diterima oleh masyarakat. Eksperimen mereka dalam membuat produk alas kaki tersebut ternyata berhasil, mereka terus membuat sepatu hingga akhirnya apa yang mereka buat mulai diendus oleh para pemilik toko grosir di seantero Jakarta. Dari situlah produk sepatu bikinan masyarakat Tangerang yang diantaranya adalah para mantan buruh pabrik sepatu ini mulai menjelajah ke beberapa daerah di Indonesia.

Namu, sayang; minimnya pengetahuan soal hukum membuat para pengrajin sepatu dan sendal ini dinilai telah melakukan pelanggaran plagiat, karena memproduksi sepatu dengen merek orang lain tanpa seizin dari pemiliki lisensi merek tersebut. Dari situ pula, para pengrajin mulai menjadi incaran para pemiliki merek, bahkan ada pula yang diantaranya adalah hanya para oknum yang menjadikan perajin sebagai bahan bulan-bulanan, hingga diperas.

Keadaan ini membuat seluruh pengrajin di Tangerang gelisah. Namun karena rasa tanggung jawab harus tetap menghidupi keluarga untuk tetap bertahan hidup, apa yang menjadi permintaan pasar, terus ia kerjakan sambil ‘petak umpet’ dengan petugas. Ketika beberapa perusahaan alas kaki kembali beroperasi di wilayah Tangerang, para pengrajin yang sudah beralih menjadi produsen sepatu rumahan ini mencoba untuk mencari zona aman, melamar kerja kembali di perusahaan alas kaki. Namun, buruknya sistem rekrutmen tenaga kerja di bidang alas kaki ini (hampir semua menggunakan sistem koneksi dan ‘menyogok’)  membuat mereka putus asa, dan terpaksa tidak bisa meninggalkan dunia barunya sebagai produsen sepatu dan sandal rumahan yang notabenenya masih menjiplak-jiplak merek orang lain.

Sampai akhirnya, untuk menyatukan seluruh pengrajin yang sebelumnya berpencar secara mandiri, pada tahun 2009 terbentuklah sebuah organisasi yang diberi nama Asosiai Pengrajin Tangerang atau APTA. Dengan berorientasi ingin lepas dari cengkeraman hukum lantaran membuat produk plagiat, dalam memberikan pembinaan terhadap para pengrajin ini, APTA pun tidak berjalan mulus, dan masih banyak anggota organisasi yang terus kucing-kucingan dengan aparat.

Namun seiring perjalanan waktu, dan semakin luasnya pergaulan para pengrajin lewat organisasi APTA, mereka mulai berpikir lebih maju. Barulah, pada awal 2011-an para pengrajin ini mulai memikirkan bagaimana harus mandiri, berkarya dengan merek sendiri.

Saat ini, sudah lebih dari 10 pengrajin sepatu dan sendal APTA yang sudah mempu berproduksi dengan merek sendiri. Diantaranya adalah CHOSAMON, LEADS, OUTLER, SABA, REFLOO, SERDADU, NESTROO, PANKICK, dan sudah lebih dari 25 merek milik pengrajin yang tergabung di APTA yang sudah didaftarkan.

Ini adalah awal sebuah berubahan bahwa ternyata APTA memiliki peran besar dalam mengembangkan, serta membangun perekonomian yang mandiri di wilayah Tangerang. Dari kepengurusan sebelumnya, yaitu sejak 2009 hingga saat ini, para pejuang APTA telah menjadi agen perubahan dalam ‘memetamorfose’ pola pikir dan cara pandang pengrajin alas kaki; yaitu mulai mereka berproduksi menggunakan alat manual, yang mengelem pun masih menggunakan kompor minyak tanah, hingga saat ini sudah menggunakan peralatan semi moderen, bahkan moderen.

APTA bukanlah sebuah organisasi pelindung plagiat, namun sebuah organisasi yang mencoba mengubah pola pikir dan cara pandang para pengrajin sepatu dan sandal agar bisa berkarya dengan merek sendiri untuk menciptakan ekonomi yang mandiri. Organisasi APTA berbadan hukum, legal, dan syah diakui olek Kemenkum-HAM.

Dan, di era digital dimana IT memegang peranan penting dalam mengembangkan perekonomian, hal yang paling penting dilakukan oleh APTA adalah bagaimana pengrajin yang tergabung di APTA mampu menguasai teknologi sebagai media promosi dan marketing produk sepatu dengan merek-merek terbaru yang mereka produksi. Salah satunya adalah website www.aptahebat.com ini.

Kami juga mohon doa dan restu kepada seluruh masyarakat Indonesia, Tangerang khususnya untuk mendukung langkah kami dalam membangun perekonomian lewat karya yang mandiri.

Wasalam

Widi Hatmoko
Ketua APTA

Comments are closed.