ESSAY: PLAGIAT BUKAN PERSOALAN PENGRAJIN SAJA, TAPI JUGA MENJADI PERSOALAN NEGARA

ESSAYUncategorized

Written by:

PLAGIAT atau penjiplakan merek yang saat ini masih terjadi di wilayah Tangerang, khususnya untuk produk alas kaki seperti sepatu atau sandal, sebenarnya bukan hanya persoalan para pengrajin atau pelaku usaha saja, tapi juga menjadi persoalan Negara.

Apalagi yang menjadi pelakunya adalah ‘home industry’ atau industri rumahan, yang dalam hal ini kalau dilihat dengan kondisi perekonomian yang terjadi saat ini, sangat membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi persoalan pengangguran. Karena, setiap pelaku industri rumahan ini rata-rata bisa mempekerjakan antara 5 sampai 20-an orang, bahkan lebih. Belum lagi dampak dari produksi, tentu saja akan menambah peluang kerja masyarakat di luar itu untuk mendapatkan penghasilan; tidak hanya di wilayah Tangerang saja, namun juga di daerah-daerah tempat penyebaran produk alas kaki yang diproduksi.

Kenapa persoalan plagiat ini tidak hanya menjadi persoalan pengrajin saja, tapi juga menjadi persoalan Negara? Ada beberapa hal yang perlu dicermati dan menjadi renungan kita semua. Hampir di beberapa daerah, terutama kota-kota besar bisa kita bisa temukan produk-produk alas kaki, terutama sepatu dengen merek terkenal, namun secara kuwalitas bisa dikatakan KW alias abal-abal dan disinyalir plagiat. Produk sepatu KW atau abal-abal dengen merek terkenal yang disinyalir plagiat ini pun beragam, ada klasivikasinya; yaitu produk lokal dan produk impor.

Ini yang paling menarik, yaitu produk alas kaki KW atau abal-abal merek terkenal tersebut katanya impor. Mungkinkah produk sepatu KW abal-abal atau plagiat ini benar produk impor? Kalau iya, mungkinkah barang ini bisa masuk ke Indonesia dengan jalur yang legal?

Ini juga yang menjadi pertanyaan, apakah di Negara asal produk KW abal-abal  ini, produk tersebut bisa diproduksi secara legal dan mendapat izin oleh si pemiliki lisensi hak cipta merek produk tersebut?

Dan, yang lebih gila lagi, harga produk sepatu ini jauh lebih murah dari produk lokal yang diproduksi oleh para pelaku ‘home industry’ atau industri rumahan yang notebenenya sebagian sudah menggunakan merek sendiri, bahkan sudah terdaftar di HAKI. Bayangkan saja, sepasang sepatu KW atau abal-abal impor yang disinyalir plagiat ini harganya hanya kisaran Rp100 ribuan, bahkan ada yang di bawahnya. Mahal-mahalnya paling hanya kisaran Rp150 ribuan. Padahal itu merek paling terkenal, yang jika kita beli di toko resmi harganya bisa mencapai di atas Rp500 ribu perpasang, bahkan sampai jutaan.

Ini yang menjadi kegelisahan para pelaku industri sepatu rumahan di wilayah Tangerang. Ini juga yang menjadi persoalan kenapa banyak produk KW alias abal-abal dengen merek terkenal dibuat oleh sebagian para pelaku industri rumahan. Karena memproduksi sepatu dengen merek sendiri tidak laku, kalah dengan produk impor yang disinyalir juga plagiat.

Dari situlah, Negara harus hadir dalam mengatasi persoalan tersebut. Sebagai upaya untuk membangun ekonomi yang kreatif dan mandiri, sudah saatnya pemerintah memberikan fasilitas kepada para pelaku usaha rumahan tersebut, baik secara kuwalitas, maupun promosi dalam mendongkrak produk lokal yang tergerus oleh produk impor yang disinyalir plagiat tersebut. Agar masyarakat tidak melanggar apa yang telah ditetapkan oleh Undang Undang Nomor 20 Tahun 2016.

Dalam hal ini, aparat penegak hukum juga harus berani memberangus produk KW abal-abal impor yang disinyalir plagiat tersebut, yang masuk ke Indonesia. Hal ini untuk memotivasi agar pelaku usaha rumahan yang masih memproduksi barang plagiat bisa beritegrasi ke merek sendiri. Karena, sejauh ini, tantangan paling berat para pelaku usaha produk sepatu rumahan adalah bersaing dengan produk KW abal-abal impor yang plagiat.

Dan, produk KW abal-abal plagiat ini pula yang terus memaksa para pelaku usaha industri sepatu rumahan di Tangerang, mau tidak mau ikut-ikutan membuat produk yang sama, lantaran merek sendiri yang sudah terdaftar di HAKI kalah saing dengan merek terkenal KW abal-abal imporan. Sementara mereka juga harus tetap bekerja untuk menghidupi keluarganya, termasuk  orang-orang yang ikut bekerja di tempat usaha rumahan para pengrajin. (*

Oleh: Widi Hatmoko
Ketua Asosiasi Pengrajin Tangerang (APTA)

 

2 Replies to “ESSAY: PLAGIAT BUKAN PERSOALAN PENGRAJIN SAJA, TAPI JUGA MENJADI PERSOALAN NEGARA”

  1. andicah berkata:

    Manteb bang.. Mudah”an produk lokal ditangerang khususnya di APTA bisa berkembang dengan baik.. Dengan merk sendiri teman” home industri bisa lebih kreatif dan mandiri..

  2. Apat arrosad berkata:

    Mantap.setuju ini pemikiran yg maju mari kt cari solusi terbaik utk masyarakat tangerang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *